Stories & Insight

Bahasa Inggris Sebenarnya Biasa Saja

Faishal - G
11/9/2026
5 min read
Bahasa Inggris Sebenarnya Biasa Saja

Bagikan artikel ini

FacebookXWhatsAppTelegram

Sebelas tahun yang lalu, saya pertama kali berdiri di depan panggung untuk menyampaikan pidato Bahasa Inggris pertama saya. Keringat dingin nyaris membuat tubuh saya menggigil. Lucunya, yang membuat saya takut bukanlah binar mata penonton, sorot tajam juri, atau bahkan keheningan mencekam yang diselimuti antisipasi. Melainkan satu hal sederhana: “Bagaimana kalau salah sebut?”

Mengapa kita sering kali takut berbicara atau menulis dalam bahasa Inggris? Jawabannya selalu sama: nanti saya keliru, saya belum mahir.

Mari kita bedah sentimen ini dan kesampingkan narasi “percaya diri saja pada apa yang kamu punya”. Kita mulai dari hal yang sederhana: dari mana ketakutan ini berasal?

Bahasa Inggris dan Warisan Kolonialisme

Bahasa Inggris hadir sebagai realita linguistik global melalui sejarah panjang kolonialisme Inggris. Adopsi bahasa Inggris oleh kaum pribumi di tanah koloni lahir dari relasi kuasa yang timpang. Bahasa Inggris harus dipahami agar mampu berinteraksi di ruang-ruang koloni ciptaan Inggris.

Ruang yang diberikan kepada pribumi ini sendiri terbatas, sehingga hanya segelintir priyayi yang mampu bertutur dengan akrab bersama para tuan-tuan Inggris.

Realita kehidupan kolonial ini menyuntikkan lapisan superioritas pada bahasa Inggris. Agar pribumi dapat dilihat memiliki derajat, ia harus mampu menjadi cukup terpelajar untuk berbicara dengan lidah bangsawan. Bahasa Inggris menjadi simbol superioritas pemerintah koloni dan, di saat yang sama, simbol kemampuan pribumi untuk menjadi cukup terpelajar sehingga mampu setara dengan pemerintah kolonial.

Ketika Bahasa Menjadi Simbol Kelas

Meskipun kolonialisme telah pudar, superioritas bahasa Inggris masih membekas.

Belajar bahasa Inggris, bagi orang umum, terkadang baru terasa urgen saat mengejar karir atau pendidikan yang lebih baik. Lebih lanjut, kemampuan berbicara bahasa Inggris dan percampuran kosakatanya dalam tutur sehari-hari menjadi prasyarat bergaul di lingkar intelektual tertentu.

Bahkan, logat Inggris sendiri pun menjadi simbol kelas. Penutur bahasa Inggris dengan logat yang serupa dengan British people dilihat memiliki derajat keahlian yang lebih tinggi dibandingkan penutur bahasa Inggris yang “medok”.

Bahasa Inggris dilihat sebagai sesuatu yang memiliki derajat berbeda dengan bahasa ibu. Sesuatu yang membutuhkan dedikasi dan layak mendapat kemuliaan bila dapat dikuasai.

Meskipun benar bahwa mempelajari bahasa Inggris membutuhkan ketekunan dan kenyataannya bahasa Inggris memang berguna bagi kehidupan, bahasa Inggris pada hakikatnya tidak lebih dari sarana komunikasi.

Sepatutnya tidak ada tuntutan untuk menggunakan bahasa Inggris semata-mata demi kepentingan karir dan akademik. Tidak semestinya pula ada pandangan bahwa logat Inggris Britania lebih unggul daripada logat kampung Ibu.

Mengapa Kita Takut Berbahasa Inggris?

Ketakutan kita akan kekeliruan saat berbicara dalam bahasa Inggris lahir dari sentimen bahwa bahasa Inggris adalah sebuah objek kemahiran yang eksklusif bagi orang-orang tertentu.

Bahwa pada umumnya kita “tidak bisa bahasa Inggris”, dan mereka yang bisa adalah mereka yang luar biasa hebat dalam menuturkannya.

Sering kali, tekanan yang timbul dari pandangan bahwa bahasa Inggris adalah bahasa yang “unggul” menyelimuti diri kita sebelum kita bahkan berusaha menyusun kalimat untuk diutarakan.

Lantas, bagaimana kita dapat mengesampingkan kecemasan yang rasa-rasanya hakiki pada diri setiap orang ketika menuturkan bahasa Inggris?

Ingat bahwa bahasa Inggris adalah bahasa. Semua “keunggulan” bahasa Inggris adalah produk panjang kolonialisme dan tidak menggambarkan kenyataan bahwa bahasa Inggris, sama seperti bahasa ibu kita, adalah sarana berbagi ide.

Bahasa Inggris Sebenarnya Biasa Saja

Jika di lain kesempatan Anda menulis atau berbicara dalam bahasa Inggris, jangan paksakan logat Anda untuk berubah menyerupai Harry Potter.

Jangan takut untuk menyisipkan satu-dua pantun saat merangkai pidato dan jangan sungkan untuk menggunakan bahasa Inggris saat menyuarakan kegundahan asmara di buku harian.

Sama seperti saya yang tidak takut saat diajarkan frasa-frasa orang Surabaya oleh teman saya. Sama seperti saya tidak takut saat melantangkan lagu pembuka animasi berbahasa Jepang.

Bahasa Inggris sebenarnya biasa saja.


Suka artikel ini? Bagikan!

FacebookXWhatsAppTelegram