Study Tips

Saya Mengira Saya Bisa Bahasa Inggris, Sampai Saya Mencoba IELTS

Sri Windari
3/12/2026
5 min read
Saya Mengira Saya Bisa Bahasa Inggris, Sampai Saya Mencoba IELTS

Bagikan artikel ini

FacebookXWhatsAppTelegram

Ada satu momen dalam hidup saya yang cukup menyadarkan. Momen itu terjadi ketika saya mulai mempersiapkan diri untuk mengikuti IELTS (International English Language System).

Sebelumnya, saya cukup percaya diri dengan kemampuan Bahasa Inggris saya karena saya biasa menonton film berbahasa Inggris tanpa subtitle, membaca novel yang juga berbahasa Inggris, bahkan berkomunikasi ringan dengan teman. Saya pikir semua itu cukup untuk meraih 6.5, ternyata tidak.

Saat pertama kali benar-benar belajar IELTS, yang saat itu langsung mengerjakan soal mock test, saya seperti sedang memasuki dunia yang sama sekali baru. Terlebih lagi dari 40 soal Listening yang saya kerjakan, saya cuma menjawab 13 dari 40 total nomor.

Selanjutnya saya dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti: Bagaimana caranya menulis esai akademik yang koheren dalam waktu 40 menit? Bagaimana membaca teks akademik, yang kadang saya tak tahu isinya, yang berhalaman-halaman jumlahnya dalam waktu terbatas? Dan bagaimana-bagaimana lainnya. Pada saat belajar itulah, saya menyimpulkan bahwa, IELTS is like a game, so in order to win, you need to know the right strategy.

Strategi ini bisa didapat dari mana saja sebenarnya, terlebih lagi di zaman yang serba digital ini, informasi gratis bertebaran di internet dan bisa diakses kapan pun. Hanya saja, karena terlalu banyak informasi itulah, muncul masalah baru, yaitu strategi mana yang harus saya ikuti?

Awalnya saya mencoba mengikuti banyak sumber sekaligus. Saya menonton berbagai video, membaca artikel, dan mencoba beragam metode belajar. Namun semakin banyak strategi yang saya temukan, semakin saya merasa bingung. Setiap orang seolah memiliki cara masing-masing yang mereka klaim paling efektif. Dari situ saya mulai menyadari bahwa belajar bukan sekadar mengumpulkan informasi, tetapi juga belajar memilih.

Perlahan-lahan saya mulai menyaring mana strategi yang benar-benar membantu dan mana yang hanya menambah kebingungan. Saya mulai memahami pola soal Listening, mempelajari struktur esai untuk Writing, serta melatih teknik skimming dan scanning untuk Reading. Proses ini tidak instan dan sering kali melelahkan, tetapi dari situlah saya mulai melihat perubahan. Hal-hal yang sebelumnya terasa mustahil perlahan menjadi lebih dapat dipahami.

Karena itulah, bagi siapa pun yang sedang berada di fase kebingungan seperti yang pernah saya alami, belajar bersama mentor yang tepat dapat menjadi jalan pintas yang sangat membantu. Melalui program persiapan IELTS di BANSA Foundation, peserta dapat belajar secara terarah bersama tutor IELTS tersertifikasi yang sudah memahami pola ujian, strategi pengerjaan soal, serta cara meningkatkan skor secara efektif. Dengan bimbingan yang sistematis, proses belajar tidak lagi terasa seperti menebak-nebak strategi sendiri, tetapi menjadi perjalanan yang lebih jelas dan terarah.

Finally, pengalaman belajar IELTS tersebut membawa saya kembali pada pemikiran tokoh di awal tulisan ini. Pendidikan memang krusial, bukan hanya karena ia memberi kita pengetahuan, tetapi karena melalui proses belajar itulah potensi dalam diri manusia perlahan menemukan bentuknya. Oleh karena itu, kalua merasa lelah dan bingung saat belajar sendiri, tutor-tutor di BANSA siap membantu.

Suka artikel ini? Bagikan!

FacebookXWhatsAppTelegram