Stories & Insight
S3 Makin Dibutuhkan. Tapi, Apakah Kesempatannya Juga Makin Terbuka?
Billa
28/7/2026
•5 min read

Beberapa hari terakhir, linimasa media sosial dan berbagai portal berita ramai membahas satu isu yang cukup mengundang perhatian:
"Benarkah semua dosen harus bergelar S3?"
Sekilas, isu ini terdengar seperti pembahasan yang hanya relevan untuk para akademisi atau dosen. Tapi kalau dipikir lebih jauh, sebenarnya ada pertanyaan yang jauh lebih besar di baliknya.
Kalau memang Indonesia ingin memiliki lebih banyak dosen bergelar doktor, apakah kesempatan untuk menempuh pendidikan S3 juga semakin mudah diakses?
Karena kalau bicara soal studi doktoral, kita tahu satu hal yang pasti: perjalanan menuju gelar S3 bukanlah perjalanan yang singkat, dan tentu bukan perjalanan yang murah.
Mari Luruskan Dulu Isunya
Sebelum membahas lebih jauh, ada satu hal yang penting untuk dipahami.
Belakangan ini muncul anggapan bahwa semua dosen di Indonesia nantinya wajib memiliki gelar doktor. Padahal, jika melihat penjelasan terkait regulasi pendidikan tinggi yang beredar, konteksnya tidak sesederhana itu.
Secara umum, dosen yang mengajar pada program sarjana atau diploma empat memiliki kualifikasi akademik paling rendah magister atau sederajat. Sementara dosen yang mengajar pada jenjang magister dan doktor memang membutuhkan kualifikasi doktor atau sederajat.
Artinya, isu yang sedang ramai ini bukan sekadar tentang "semua dosen harus S3". Yang lebih penting justru adalah adanya dorongan untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di perguruan tinggi, termasuk memperbanyak dosen yang memiliki kualifikasi doktor.
Dan di sinilah diskusi yang menurut kami jauh lebih menarik dimulai.
Ketika Gelar Doktor Menjadi Harapan, Akses Menjadi Tantangan
Meningkatkan kualitas pendidikan tentu menjadi tujuan yang baik.
Lebih banyak dosen bergelar doktor berarti semakin banyak peluang lahirnya riset, inovasi, kolaborasi internasional, hingga pengembangan ilmu pengetahuan yang lebih kuat.
Namun, ada satu pertanyaan yang sering kali luput dari pembahasan.
Apakah semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai jenjang S3?
Kuliah doktor bukan hanya soal diterima di sebuah universitas.
Ada biaya pendidikan, biaya hidup, penelitian, publikasi, konferensi, hingga waktu yang harus dikorbankan selama bertahun-tahun. Bagi banyak orang, faktor finansial masih menjadi salah satu hambatan terbesar untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.
Kalau aksesnya terbatas, maka impian memiliki lebih banyak akademisi bergelar doktor juga akan ikut terbatas.
Kabar Baiknya, Ada Lebih Banyak Jalan daripada yang Kita Kira
Di tengah tantangan tersebut, sebenarnya ada banyak peluang yang sering kali belum dimanfaatkan secara maksimal.
Beasiswa seperti LPDP telah membuka kesempatan bagi ribuan masyarakat Indonesia untuk melanjutkan studi magister maupun doktor, baik di dalam maupun luar negeri. Di tingkat internasional pun tersedia berbagai program pendanaan PhD dari pemerintah, universitas, maupun lembaga pendidikan di berbagai negara.
Tentu, mendapatkan beasiswa bukan perkara mudah.
Ada proses seleksi yang kompetitif, proposal penelitian yang harus dipersiapkan dengan matang, dokumen administrasi, wawancara, hingga kemampuan bahasa yang menjadi salah satu syarat penting.
Namun, adanya tantangan bukan berarti jalannya tertutup.
Justru sebaliknya, peluang itu ada bagi mereka yang mulai mempersiapkan diri lebih awal.
Persiapan S3 Tidak Dimulai Saat Pendaftaran Dibuka
Salah satu kesalahpahaman yang masih sering terjadi adalah menganggap persiapan beasiswa dimulai ketika pengumuman pendaftaran keluar.
Padahal, persiapan menuju studi doktoral bisa dimulai jauh sebelum itu.
Mulai membangun pengalaman profesional atau akademik.
Terlibat dalam penelitian.
Mengikuti konferensi atau seminar.
Mencari topik yang benar-benar ingin diteliti.
Dan tentu saja, mempersiapkan kemampuan bahasa Inggris.
Banyak orang melihat sertifikat kemampuan bahasa Inggris hanya sebagai syarat administrasi. Padahal, ketika akhirnya diterima di program doktoral, kemampuan tersebut akan digunakan setiap hari—membaca jurnal ilmiah, berdiskusi dengan supervisor, menulis publikasi, hingga mempresentasikan hasil penelitian di forum internasional.
Jadi, belajar bahasa Inggris bukan semata-mata untuk mengejar skor.
Lebih dari itu, ini adalah bekal untuk bisa bertahan dan berkembang di lingkungan akademik global.
Mungkin, Ini Saatnya Mengubah Cara Kita Melihat Isu Ini
Ramainya pembahasan tentang dosen dan gelar S3 sebenarnya bisa menjadi momentum yang baik.
Bukan untuk memperdebatkan siapa yang sudah atau belum memenuhi kualifikasi.
Tetapi untuk mulai bertanya:
Bagaimana caranya agar semakin banyak orang memiliki kesempatan melanjutkan studi hingga jenjang doktor?
Bagaimana beasiswa bisa menjangkau lebih banyak calon akademisi?
Bagaimana perguruan tinggi, pemerintah, dan berbagai lembaga dapat bersama-sama membuka akses pendidikan yang lebih luas?
Karena pada akhirnya, kualitas pendidikan tinggi tidak hanya ditentukan oleh standar yang ditetapkan.
Tetapi juga oleh seberapa besar kesempatan yang diberikan kepada orang-orang untuk memenuhi standar tersebut.
Isu mengenai dosen bergelar S3 mungkin akan terus menjadi bahan diskusi dalam beberapa waktu ke depan.
Namun, semoga diskusi ini tidak berhenti pada pertanyaan "Apakah dosen harus S3?"
Akan jauh lebih bermakna jika kita juga mulai membicarakan bagaimana lebih banyak orang bisa memperoleh kesempatan untuk sampai ke sana.
Sebab pendidikan yang lebih baik bukan hanya lahir dari standar yang lebih tinggi.
Ia juga lahir dari akses yang lebih luas.
Dan siapa tahu, bagi seseorang yang hari ini sedang membaca artikel ini, isu yang ramai diperbincangkan justru menjadi awal untuk bertanya pada dirinya sendiri:
"Kalau suatu hari aku ingin mengambil S3, langkah pertama apa yang bisa mulai aku persiapkan dari sekarang?"
Mungkin jawabannya bukan langsung mendaftar besok.
Tapi mulai mencari informasi, membangun pengalaman, memperkuat kemampuan bahasa Inggris, dan membuka diri terhadap berbagai peluang beasiswa yang tersedia.
Karena kesempatan sering kali datang kepada mereka yang sudah mulai bersiap, bahkan jauh sebelum kesempatan itu benar-benar tiba.