Should dan Ought to: Kapan Memakainya?

Should dan ought to punya arti yang sangat mirip. Keduanya dipakai untuk menyatakan kewajiban dan tugas, memberi saran, dan secara umum untuk mengatakan apa yang menurut kita benar atau baik dilakukan seseorang. Dalam bahasa Indonesia, padanannya adalah "sebaiknya", "seharusnya", atau "semestinya".
Contoh PenggunaanYou ought to / should go and see "Little Women", it's a great film.
Kamu sebaiknya menonton "Little Women", filmnya bagus sekali.You should have gone to the party!
Seharusnya kamu datang ke pesta itu!People ought to vote even if they don't agree with any of the candidates.
Orang seharusnya tetap memberikan suara, meskipun tidak setuju dengan satu pun kandidat.
Dalam kebanyakan kasus, should dan ought to bisa dipakai dengan makna yang kurang lebih sama. Tapi ada perbedaan yang sangat tipis:
Should dipakai saat kita menyampaikan pendapat pribadi (subjektif).
Ought to terasa lebih objektif dan lebih tegas. Biasanya dipakai untuk membicarakan hukum, kewajiban, dan peraturan, atau saat kita ingin pendapat kita terdengar sekuat sebuah kewajiban.
Bandingkan kedua kalimat ini:
You should / ought to go and see Diana some time. (Keduanya bisa dipakai)
Kamu sebaiknya mengunjungi Diana kapan-kapan.
We ought to go and see Diana tomorrow, but I don't think we will. (Di sini should terdengar janggal)
Kita seharusnya mengunjungi Diana besok, tapi sepertinya kita tidak akan pergi.
Kenapa should terdengar aneh di kalimat kedua? Karena should menyampaikan saran dari opini kita sendiri. Rasanya ganjil kalau kita memberi saran pada diri sendiri, lalu langsung bilang bahwa kita tidak akan mengikutinya. Ought to terasa lebih netral, seperti mengakui adanya kewajiban yang tidak kita penuhi.
Menyatakan Kemungkinan BesarShould dan ought to juga bisa dipakai untuk menyatakan sesuatu yang sangat mungkin terjadi. Dalam bahasa Indonesia, artinya mirip "seharusnya" atau "pasti".
I've cooked rice for twenty people, that ought to be enough.
Saya sudah memasak nasi untuk dua puluh orang, seharusnya cukup.That should be Janet coming upstairs now.
Itu pasti Janet yang sedang naik ke lantai atas.
Untuk membicarakan masa kini dan masa depan, pakai should atau ought to + kata kerja dasar. Untuk membicarakan masa lalu, terutama untuk menyatakan penyesalan atau kritik terhadap hal yang tidak dilakukan, pakai should have atau ought to have + kata kerja bentuk ketiga (V3):
You should have told me earlier.
Seharusnya kamu bilang padaku lebih awal.We ought to have left earlier.
Seharusnya kita berangkat lebih awal.
Dalam percakapan sehari-hari, should jauh lebih sering dipakai daripada ought to. Hal ini terlihat jelas pada kalimat tanya dan kalimat negatif. Kita biasanya bilang Should I call her? (Perlukah saya meneleponnya?) dan You shouldn't eat so much sugar. (Sebaiknya kamu jangan makan gula terlalu banyak). Bentuk ought not to atau oughtn't to memang benar secara tata bahasa, tetapi terdengar formal dan jarang dipakai dalam obrolan biasa.
Perlu diingat juga bahwa should dan ought to lebih lembut daripada must atau have to. Kalau kamu bilang You should see a doctor, itu berarti sebuah saran. Kalau kamu bilang You must see a doctor, itu terdengar seperti perintah yang mendesak. Pilih kata yang sesuai dengan seberapa kuat dorongan yang ingin kamu sampaikan.