Study Abroad Content Is Everywhere. But What Does It Actually Feel Like?

Kalau kamu buka TikTok atau Instagram dan search study abroad, rasanya kontennya nggak pernah habis. Ada yang day in my life di London. Ada yang bikin video belajar di library kampus. Ada yang room tour student accommodation, jalan-jalan ke kota sebelah, sampai konten “what I spend in a week as an international student.”
Semuanya kelihatan seru. Dan memang seru.
Tapi setelah pernah merasakan sendiri tinggal dan belajar jauh dari rumah, aku sadar kalau study abroad itu sebenarnya jauh lebih banyak daripada apa yang masuk ke kamera. Karena di balik foto depan kampus dan video jalan-jalan, ada kehidupan sehari-hari yang sangat… biasa. Dan justru di situlah bagian menariknya.
Ternyata Tinggal di Luar Negeri Nggak Selalu Instagramable
Waktu pertama kali tinggal di Glasgow, aku punya kamar sendiri di student accommodation. Satu lorong dihuni enam orang, jadi masih ada teman untuk ngobrol atau sekadar ketemu di dapur. Tapi tetap saja, untuk pertama kalinya banyak hal harus dilakukan sendiri.
Belanja, masak, laundry, mengatur uang, memastikan nggak telat kelas, sampai memutuskan mau makan apa malam ini.
Hal-hal yang sebelumnya mungkin terasa sepele tiba-tiba menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Dan dari situ aku mulai sadar: study abroad ternyata juga merupakan crash course untuk belajar hidup mandiri. Nggak ada yang akan tiba-tiba mengingatkan kamu untuk beli sabun ketika sudah habis. Nggak ada yang akan bilang, “Jangan terlalu sering makan di luar, nanti uangmu habis.”
Kamu sendiri yang harus tahu batesan itu sampai mana.
The Budgeting Reality
Salah satu hal yang paling cepat aku pelajari adalah bagaimana mengatur pengeluaran.
Waktu itu aku lebih sering masak sendiri dan belanja groceries di Aldi atau Lidl. Untuk makanan, pengeluaranku kira-kira £50–£70 per minggu. Sementara sekali makan di luar bisa sekitar £11–£15. Jadi kalau ingin tetap punya uang untuk hal-hal lain, masak sendiri jelas jauh lebih masuk akal. Tapi bukan berarti hidup di sana harus pelit.
Aku tetap pernah makan di luar, ngopi, beli oleh-oleh, dan jalan-jalan. Apalagi Scotland punya banyak tempat yang sayang kalau dilewatkan.
Karena waktu itu aku juga memenuhi syarat untuk menggunakan Young Scot, hak istimewa untuk menggunakan transportasi bus di Scotland secara gratis. Ditambah lagi, aku memang lumayan sering jalan kaki.
Akhirnya aku belajar bahwa hidup sebagai student di luar negeri bukan soal “berapa banyak uang yang kamu punya?”
Tapi juga: “Kamu tahu nggak uangmu pergi ke mana?”
Ada momen ketika semuanya terasa normal.
Bangun pagi, bikin sarapan, pergi kelas,belanja groceries, pulang, masak, belajar lalu tidur.
Rutinitas yang kalau dilakukan di Indonesia mungkin terasa biasa saja.
Tapi suatu hari kamu berhenti sebentar dan berpikir: “Wait. Gue sekarang benar-benar tinggal di Scotland.” Menurutku, momen seperti itu justru lebih berkesan daripada foto di depan kampus. Karena saat itulah kamu mulai merasa bahwa tempat yang dulu hanya ada di peta atau layar laptop sekarang sudah menjadi bagian dari keseharianmu.
Tentu saja ada hari-hari yang nggak aesthetic.
Ada tugas, ada capek, ada homesick, ada hari ketika kamu cuma ingin makan makanan Indonesia, ada juga momen ketika semuanya terasa terlalu banyak karena kamu harus mengurus semuanya sendiri.
Study abroad bukan liburan panjang. Kamu tetap student. Tetap punya deadline. Tetap bisa bad mood.
Tetap bisa merasa bingung. Tapi bedanya, kamu belajar menghadapi semua itu di lingkungan yang baru. Dan menurutku, kemampuan seperti itu adalah salah satu hal paling berharga yang akhirnya kamu bawa pulang.
Hal lain yang nggak selalu terlihat dari konten study abroad adalah orang-orang yang kamu temui. Kamu bisa berteman dengan seseorang yang punya latar belakang, budaya, bahkan cara berpikir yang sangat berbeda.
Obrolan yang awalnya cuma: “Where are you from?”
bisa berubah menjadi percakapan tentang pendidikan, pekerjaan, negara masing-masing, sampai rencana hidup setelah lulus.
Dan tanpa sadar, cara kamu melihat dunia ikut berubah.
Bukan karena kamu harus setuju dengan semua orang.
Tapi karena kamu akhirnya tahu bahwa ada lebih dari satu cara untuk melihat sesuatu.
Kalau harus menjawab dalam satu kalimat?
It's exciting, overwhelming, ordinary, and extraordinary at the same time. Ada hari ketika semuanya terasa seperti mimpi. Ada hari ketika semuanya terasa seperti kehidupan biasa. Dan mungkin justru itu yang membuat pengalaman tersebut berharga.
Karena pada akhirnya, study abroad bukan cuma tentang mendapatkan gelar dari universitas di negara lain. Kamu belajar mengurus diri sendiri. Belajar beradaptasi. Belajar mengatur uang. Belajar bertemu orang baru.
Belajar hidup jauh dari rumah.
Dan mungkin, yang paling penting, kamu jadi tahu bahwa dunia ternyata jauh lebih luas dari yang selama ini kamu lihat.
Aku nggak akan bilang semua orang harus kuliah ke luar negeri. Nggak harus.
Tapi kalau kamu pernah punya pikiran: “Kayaknya seru deh kalau bisa kuliah di luar.” Jangan langsung berhenti di “kayaknya.”
Coba cari tahu.
Universitas mana yang punya program yang kamu mau?Negara mana yang cocok? Ada scholarship apa?
Apa saja requirement-nya? Apakah kamu membutuhkan English proficiency test? Karena banyak orang baru mulai mencari ketika deadline sudah dekat.
Padahal semakin awal kamu tahu apa yang dibutuhkan, semakin banyak waktu yang kamu punya untuk mempersiapkannya. Dan kalau biaya menjadi salah satu alasan kamu ragu, jangan lupa bahwa scholarship bisa menjadi salah satu jalan untuk membuat study abroad lebih memungkinkan.
Kamu bisa mulai menjelajahi berbagai informasi scholarship dan study abroad opportunities melalui BANSA Foundation. Kalau program yang kamu incar membutuhkan English proficiency test, kamu juga bisa mulai mempersiapkan kemampuan English-mu bersama BANSA. Karena mungkin study abroad memang sudah ada di mana-mana di internet.
Tapi pengalaman yang akan kamu dapatkan?
That one will be yours.