Study Tips

“Kalau Nggak Suka, Silakan Cari Negara Lain” — Terus, Kalau Emang Mau Beneran Pergi, Siap Nggak?

Budi
15/7/2026
5 min read
“Kalau Nggak Suka, Silakan Cari Negara Lain” — Terus, Kalau Emang Mau Beneran Pergi, Siap Nggak?

Bagikan artikel ini

FacebookXWhatsAppTelegram
“Kalau Nggak Suka, Silakan Cari Negara Lain” — Terus, Kalau Emang Mau Beneran Pergi, Siap Nggak? Awal Juli kemarin, linimasa ramai banget gara-gara satu kalimat. Presiden Prabowo, dalam pidatonya di Puncak Peringatan Hari Koperasi ke-79 di Senayan, menyampaikan pernyataan yang kemudian ramai dibahas publik. Kurang lebih, beliau mengatakan bahwa siapa pun yang merasa Indonesia suram dipersilakan mencari negara lain, dan tidak ada yang melarang. Netizen langsung terbelah. Ada yang setuju dan menganggap pernyataan itu sebagai ajakan untuk lebih semangat membangun negeri sendiri. Ada juga yang menjadikannya bahan candaan hingga menjadi konten meme di mana-mana. Tapi di luar riuhnya perdebatan itu, ada satu pertanyaan menarik yang jarang dibahas serius: Kalau benar-benar mau “keluar negeri”, sudah siap belum dari sisi skill dan dokumen? Dari Meme Jadi Motivasi Buat sebagian orang, kalimat itu mungkin cuma lucu-lucuan di kolom komentar. Tapi buat sebagian lain, terutama yang memang sudah lama menyimpan mimpi lanjut S2 ke luar negeri, kalimat itu bisa jadi semacam pengingat. Bukan soal setuju atau tidak setuju dengan pernyataannya. Tapi soal bagaimana momen yang sedang ramai dibahas bisa dijadikan dorongan untuk mulai serius mengejar rencana yang selama ini cuma jadi wacana. Kalau selama ini kamu sering bilang ingin kuliah ke luar negeri, ingin cari pengalaman global, atau ingin daftar beasiswa S2, mungkin ini saatnya mulai mempersiapkan semuanya dengan lebih nyata. Kabar baiknya, peluang itu memang ada. Banyak beasiswa S2 ke luar negeri saat ini menawarkan skema yang relatif fleksibel dan tidak selalu mewajibkan penerimanya untuk bekerja pada instansi tertentu setelah lulus. Beberapa contohnya: Chevening di Inggris, yaitu beasiswa penuh dari pemerintah Inggris, tidak mewajibkan penerimanya untuk kembali bekerja pada instansi tertentu di Indonesia. Fulbright di Amerika Serikat memiliki ketentuan visa J-1 yang dapat mengharuskan penerima kembali ke negara asal selama periode tertentu, tetapi tidak mewajibkan penerimanya untuk mengabdi kepada instansi pemerintah tertentu di Indonesia. DAAD di Jerman, Australia Awards, dan berbagai beasiswa langsung dari universitas atau university-funded scholarship umumnya juga menawarkan skema yang relatif fleksibel, tergantung ketentuan program masing-masing. Berbeda dengan beberapa beasiswa dalam negeri yang mensyaratkan ikatan kerja setelah lulus, jalur-jalur beasiswa luar negeri tersebut bisa menjadi pilihan bagi kamu yang ingin punya opsi lebih luas untuk berkarier secara global setelah menyelesaikan studi. Tapi Ada Satu Gerbang yang Sering Bikin Mundur Dari sekian banyak orang yang punya nilai akademik bagus, pengalaman organisasi yang cukup, dan motivasi yang kuat, banyak yang akhirnya tidak jadi daftar beasiswa karena satu hal: skor bahasa Inggris. IELTS, TOEFL iBT, Duolingo English Test, atau tes sertifikasi bahasa Inggris lainnya sering menjadi syarat penting untuk aplikasi beasiswa S2 ke luar negeri. Dan ini bukan cuma soal “bisa bahasa Inggris”. Ini soal mampu mencapai skor spesifik yang diminta oleh kampus atau program beasiswa tujuan. Untuk banyak program S2, skor yang diminta biasanya berada di sekitar IELTS 6.5 sampai 7.5 atau setara, tergantung universitas, jurusan, dan negara tujuan. Di sinilah banyak calon pelamar mulai merasa tertantang. Ada yang sebenarnya cukup lancar ngobrol bahasa Inggris sehari-hari, tapi kaget ketika bertemu format tes akademik. Writing Task 2 membutuhkan struktur argumen yang jelas. Listening menuntut kemampuan memahami berbagai aksen dan percakapan cepat. Speaking dinilai dengan rubrik tertentu dalam waktu yang terbatas. Artinya, bisa menggunakan bahasa Inggris dan siap menghadapi tes bahasa Inggris adalah dua hal yang berbeda. Momentum Ini, Manfaatkan Sekarang Terlepas dari pro dan kontra soal pernyataan yang sedang ramai dibahas, satu hal yang pasti: peluang untuk melanjutkan S2 ke luar negeri benar-benar terbuka. Yang membedakan siapa yang akhirnya berangkat dan siapa yang hanya menyimpannya sebagai wacana biasanya bukan hanya keberanian untuk “pergi”. Lebih dari itu, yang menentukan adalah kesiapan. Dan salah satu bagian paling penting dari kesiapan itu adalah skor tes bahasa Inggris. Kalau kamu salah satu yang sekarang mulai berpikir, “Oke, sepertinya aku serius mau coba,” maka langkah paling realistis untuk mulai adalah menyiapkan skor sertifikasi bahasa Inggrismu lebih dulu. Bukan hanya belajar sendiri dari video acak di internet, tetapi melalui latihan yang terarah, simulasi tes yang realistis, feedback yang jelas, dan strategi yang sesuai dengan target skor beasiswamu. Di Bansa, kami membantu persiapan IELTS, TOEFL, dan tes sertifikasi bahasa Inggris lainnya dengan pendekatan yang fokus pada kebutuhan nyata pelamar beasiswa. Bukan sekadar belajar grammar, tetapi memahami format tes, membangun strategi, memperbaiki kelemahan, dan mengejar skor yang benar-benar dibutuhkan untuk kampus impianmu. Jadi, daripada hanya ikut ramai di kolom komentar, kenapa tidak jadikan momen ini sebagai titik awal untuk benar-benar mempersiapkan diri? Ingin tahu skor IELTS atau TOEFL yang kamu butuhkan untuk beasiswa incaranmu? Konsultasikan rencana studimu dengan tim Bansa dan mulai persiapkan langkahmu dari sekarang.

Suka artikel ini? Bagikan!

FacebookXWhatsAppTelegram