Writing English: Creative Writing di Era Copywriting

Dreadloth, Prince of Darkmoon, draws his sword
His vengeance is sworn upon the maiden his eyes behold
In the shadows cast by the visage of the Dark Lord
No hero should ever stand fast, but tremble and lose their boldness
Yet the warmaiden Selez, chained and battered and bruised
Her eyes burn with a defiant gaze, unbroken and unbeaten
The cruel Darkmoon realizes as his sword arm pauses
For this maiden of justice, his heart has fallen
Dreadloth dan Selez adalah dua tokoh yang saya tulis tanpa maksud apa pun selain iseng. Sejauh ini, Dreadloth dan Selez telah ‘membintangi’ 5 cerpen dan 3 puisi. Saya bukan penulis sastra tinggi maupun sarjana studi literatur. Namun, saya percaya proses Creative Writing seharusnya tidak terbatas pada penulis atau sastrawan.
Dewasa ini, setiap pembahasan tentang writing in English selalu berputar pada penulisan yang sifatnya akademik atau komersial. Seminar dan kelas Copywriting lebih lumrah kita jumpai daripada Creative Writing. Jarang rasanya jiwa kreasi kita digelitik dan didorong untuk mulai merangkai kata-kata Bahasa Inggris sebagai sarana menyampaikan olah rasa. Padahal, Creative Writing juga mendorong perkembangan dalam berbahasa Inggris dan, di saat yang sama, memberi ruang bagi hati kita untuk bicara.
Kapitalisme menyuburkan bingkai berpikir bahwa agar sesuatu itu layak untuk memperoleh waktu dan energi kita, perlu ada pengembalian investasi yang sepadan. Belajar Bahasa Inggris, dalam pola pikir modern ini, dianggap penting karena kemampuannya untuk membuka kesempatan kerja dan pendidikan. Sehingga, latihan menulis dalam Bahasa Inggris perlu dilakukan dalam ruang yang membawa keuntungan materi pula.
Luasnya akses media sosial menciptakan kebutuhan baru akan kemampuan menulis dalam Bahasa Inggris: Copywriting. Konten, infografis, press release; ini adalah bentuk penulisan yang sifatnya ‘nyata’. Ia berputar pada apa yang ada di dunia nyata dan memproses informasi tersebut. Copywriting adalah kemampuan yang subur di lingkungan korporasi. Tulisan yang profesional, aktual, dan akurat.
Fantasi dan imajinasi tidak bisa hadir di ruang penulisan ini. Imbasnya, Creative Writing dipandang sebelah mata. Kita tidak lagi punya ruang dan dorongan untuk menulis dengan tujuan menyampaikan hasil olah rasa. Kegiatan menulis menjadi sarana lain dalam kehidupan profesional kita. Bahasa Inggris menjadi salah satu dari sekian alat yang kita pakai dalam pekerjaan.
Sebagai seseorang yang aktif menulis, walau tidak dipublikasikan, dan aktif meningkatkan kemampuan berbahasa, saya merasa ada tiga keuntungan utama dalam proses Creative Writing.
Pertama, membiasakan diri untuk mencari dan mempelajari vocabulary baru. Menulis redaksi laporan kunjungan karya wisata dan menulis cerita pengalaman karya wisata adalah dua hal yang berbeda. Untuk menggambarkan pengalaman, kita secara aktif mencari kata-kata untuk menggambarkan apa yang kita lihat dan rasakan, bukan hanya apa yang ada secara faktual di lapangan.
The mountain I visit isn’t just green. It’s lush with wreaths of trees in glorious asymmetry.
Kedua, membiasakan kita untuk berani menulis. Dalam copywriting atau penulisan lain yang sifatnya profesional, ada kecenderungan untuk terus-menerus menyunting tulisan kita seiring proses menulis. Dorongan perfeksionis ini tidak salah, namun sering kali mengganggu proses penulisan. Creative Writing tidak menghukum kesalahan sebesar penulisan profesional. Justru sebaliknya, ia menyediakan ruang bagi ‘kesalahan’ tersebut untuk menjadi bagian dari emosi yang ingin kita sampaikan.
Ketiga, dan mungkin yang paling utama, Creative Writing adalah bagaimana kita mengubah Bahasa Inggris menjadi sesuatu yang menghibur. Tiap huruf, kata, dan kalimat dalam tulisan adalah milik kita dan cerminan dari apa yang kita rasakan. Setiap perkembangan yang terjadi dari proses Creative Writing datang secara organik dan akan membekas karena kita melakukannya dengan lebih ringan.
Maka, pada liburan berikutnya, tulislah puisi saat menatap matahari terbenam. Pada jeda antara kelas, tuliskan cerita pertemuan romantis di kantin sekolah. Pada perjalanan udara yang jauh, tulislah dunia fantasi di mana manusia hidup di antara awan-awan.
Tidak lagi kita menulis hanya untuk memenuhi kuota kata dalam publikasi konten. Kita juga bisa menulis untuk diri kita sendiri.